Student College-Trainer-Civil Engineer Wanna Be
May 21st, 2013
lesson learned
(via kurniawangunadi)
May 17th, 2013
HAHAHAHAHA.
May 13th, 2013
First and Last
(Source: fuckyeahmanchesterunited)
April 28th, 2013
Mandau Dance, Central Kalimantan, Indonesia.
(by Prayudi nugraha)
April 27th, 2013
(Source: kuntawiaji)
April 27th, 2013
Rajawali Kecil yang Ingin Besar
“Rajawali besar harus tega, walaupun hatinya hancur, melihat rajawali kecil jatuh saat belajar terbang. Karena kalau tidak jatuh, kau tidak tahu bagaimana rasanya sakit, dan kalau sudah tahu, kau akan berusaha terbang sebaik mungkin.”-Bang Basar.
Tulisan ini merupakan inspirasi dari posting Bang Basar. Oh iya Bang Basar adalah salah satu trainer super saya saat LDP (Leadership Development Program) di GKI MY tahun lalu. Kutipannya sangat-sangat menyentuh hati penulis karena prinsipnya sedang digoyah oleh keadaan yang sungguh ngeri di jamannya (asikk).
Dalam dinamika kehidupan kadang orang tertipu mana kawan mana lawan. Masih ingat pepatah tidak ada kawan abadi yang ada hanya kepentingan abadi ? Ya kira-kira seperti itu. Orang yang berbuat baik di sekitar kita belum tentu baik selama kepentingannya belum tercapai, vice versa. Artinya apa ? Artinya kira-kira bahwa orang yang tidak memepedulikanmu sepenglihatanmu (subjektif) tidak selamanya ingin melihatmu jatuh begitu saja. Sama seperti rajawali besar yang bersikap “cuek” terhadap rajawali kecil yang selalu terjatuh untuk menyentuh langit. Hatinya pasti sedih ya sedih…bukan puas melihat rajawali kecil terluka. Namun dengan tenang si rajawali besar berkata, “Jangan tiru bagaimana caraku terbang.”
Terkadang dia pergi menjauhi si rajawali kecil. Si rajawali kecil yang bepikiran dangkal pun mengklaim bahwa si rajawali besar apatis, sombong, merendahkan diri si rajawali kecil. Tapi tahukah kamu kawan bahwa si rajawali besar pergi bukan karena tidak ingin melihat rajawali kecil menggapai mimpinya, tetapi si rajawali besar tidak sanggup melihat perih yang dirasakan si rajawali kecil. Mungkin dengan meninggalkan “sementara” si rajawali kecil yang lemah. Mungkin dengan meninggalkan rajawali kecil itu semangatnya lebih terpacu menggapai langit dan keluar dari tekanan yang menghimpitnya selama ini.
Kelak jika si rajawali kecil itu sudah mampu menyentuh langit dengan daya jelajah lebih luas dari si rajawali besar, si rajawali kecil akan bangga dengan pencapaiannya. Si rajawali kecil belum tentu sadar apa yang dilakukan si rajawali besar selama ini. Tiba-tiba si rajawali besar datang, si rajawali kecil pun menatap sinis kepadanya. Dia tidak tahu bahwa selama ini si rajawali besar mendoakannya agar impiannya cepat terkabul sambil bersembunyi di balik pohon.
Maksud dari tulisan jangan terlalu cepat menjudge seseorang selama belum punya data yang cukup. Data bisa saja berubah. Buka pemikiran dengan cara sering mambaca, memahami pikiran urang lain, sering bersoisalisasi dan lain-lain.
Sekian.
April 21st, 2013

kayaknya bagus untuk dibeli, cek dompet #pupus
April 6th, 2013
April 6th, 2013
Aku, Alam dan 3078 mdpl
Oke tersebutlah manusia manusia sok jago bernama aku. Sok anak gunung, sok pecinta alam, sok kuat yang biasanya berkutat dengan berbagai modul, asistensi, tidur di kelas, struktur maya, forum sampai dini hari. Sebenarnya asumsi dasar tidak ada sinkronisasi antara akademik, organisasi, cinta dan alam.
Aku tidak punya pengalaman sama sekali naik gunung dan tiba-tiba langsung dihadapkan dengan puncak tertinggi di Jawa Barat yang akan ditaklukkan bernama Gn. Ciremai dengan ketinggian 3078. Astaga, kenapa pengalaman pertama harus mendapatkan tantangan sedemikian berat di kelasnya. Bahkan orang-orang di sekitarku sesama pendaki mulai meragukan kemampuanku (ya iyalaah…)
Sebenarnya alasan saya ingin mendaki gunung semata-mata ‘mengisi waktu luang” dan “lari dari kenyataan’. Tidak ada alasan untuk mencintai alam Indonesia nan kaya apalagi menambah teman.
Si aku yang pemalas ini dengan tindakan konyol yang tidak tahu medan yang akan dia tempuh malah menerjang bernama dinding ketakutan begitu saja.
Aku tidak akan menceritakan secara detail betapa serunya kegiatanku di atas sana. Melihat hampir semua kota-kota di Jawa Barat bagai aku sebagai sang raja penguasa tanah ini. Tidur dekat goa walet, tidur dengan alas yang sudah kebanjiran, makan dengan nuansa campur sari indomi rebus dan indomi gorenh yang diaduk di atas trashbag yang seharusnya menjadi tempat sampah -___- dan diakhiri dengan melihat kawah gunung yang masih aktif di mana di belakangku terlihat jelas garis Pantai Utara Jawa dan sapaan dari tetangga Gn. Slamet (gunung yang katanya tertinggi di Jawa Tengah). Indah sekali kawan, seindah diterima di ITB, seindah diterima menjadi keluarga himpunan dan unit.
Oke cukup sampai di situ. Yang dapat aku pelajari adalah bahwa aku tidak dapat lari dari kenyataan, karena ketika aku lari tanggung jawab itu menghantui diriku ke mana aku lari bahkan ketika aku layak sombong di mana kepalaku hampir menyentuh matahari dan telapak kakiku lebih tinggi dari burung rajawali yang terbang sekalipun. Kenyataannya tetap sama, beratnya tetap sama jadi tidak ada masalah yang terselesaikan dengan cara lari.
Kayaknya cukup sampai di situ saja, sampai jumpa di kenyataan lain. Hati-hati provokasi dan spekulasi #eh.

March 24th, 2013
Catatan Kisah 1600 TPB
Sebelum menulis ini saya perkenalkan bahwa saya seorang massa HMJ, (diklaim) sebagai anggota biasa KM-ITB, massa Unit lebih tepatnya Sunken Court. Dan bukan promotor, timses, simpatisan, partisipan atau apapun yang mengkalim diri saya berpihak kepada salah satu calon ketua kabinet KM-ITB. Mahasiswa yang belum punya karya apapun di kampus ini apalagi di masyarakat. Mahasiswa yang sudah mengamati hampir 3 tahun pergerakan politik di kampus ini mulai dari isu-isu elegan sampai isu-isu konyol yang cocok ditampilkan di stand-up comedy. Dan yang pasti tulisan ini tanpa ada paksaan dari pihak manapun.
Mungkin banyak orang apalagi massa himpunan dan TPB latar belakang angka 1600 TPB keluar. Apakah dari kocok dadu angka 1,6,0, dan 0 atau hasil perkalian angka NIM kedua calon kemudian dikuadratkan dan dicari inversnya. Bukan kawan. Massa sunken (Sunken Court.red) tidak pernah “memaksa” kedua calon mendatangkan massa TPB sebanyak mungkin. Sekali lagi tidak pernah. Angka 1600 keluar setelah tawar menawar data antara pihak calon dan massa sunken. Sebelumnya angka tawarnya adalah 100%. Namun setelah dikalkulasikan keluar angka 1600. Kenapa massa TPB harus banyak ? Karena mereka merupakan darah segar atau lumbung suara para pihak calon seperti pemira tahun lalu. Terlepas dari seorang massa sunken yang menuntut mereka mundur ketika tidak sanggup, itu merupakan konsekuensi seorang pemimpin bukan ? Bukankah selama osjur atau apapalah namanya ketika angkatan termuda ingin masuk himpunan/unit melakukan kesalahan selalu diminta memikirkan solusinya baik dengan cara lembut ataupun keras. Toh mereka terima-terima saja karena tidak sanggup memikirkan solusi lain. Dan massa sunken berpikir mereka telah meikirkan matang-matang keputusan masing-masing.
Lanjut kepada poin TPB, massa sunken khawatir mereka calon pemegang kebijakan di HMJ dan unit kelak belum terlalu cerdas. Ini juga merupakan sindiran halus kepada panitia Pemira 2013 yang tidak tanggap kepada adik-adik saya TPB 2012 yang terkesan terlalu mendewakan HMJ dengan membagi mereka ke beberapa zona hearing tetapi tidak melakukan sistem yang sama kepada mereka. Ironis. Bukankah 1 suara TPB yang belum berumur setahun di kampus ini sama dengan 1 suara mahasiswa yang hampir menyelesaikan ratusan SKS-nya di kampus ini ?
Jadi ketika kuorum yang terpenuhi walaupun saya yakin ada manipulasi data saat penghitungan kuorum, ada seorang TPB mengatakan bahwa mereka merasa dikendalikan massa sunken saya. Saya sedih mendengarnya. Pemikiranmu sempit kawan. Saya tidak ingin menggenaralisir bahwa semua TPB 2012 berpikiran sempit. Saya meneganal TPB 2012 yang sangat visoner untuk kampus ini. Terlepas dari itu saya khawatir ketika kalian memegang tampuk kepemimpinan kelak. Semoga kalian cepat berubah dari kurungan perspektif konyol itu terlepas siapa pihak yang mengajarkan kalian demikian.
Akhir kata, 1600 yang terpenuhi dikabarkan akibat kerja keras kedua tim tanpa campur tangan massa sunken. Di sini ada indikasi bahwa massa sunken sebagai masyarakat kelas dua tidak berandil sama sekali. Padahal saat terjadi diskusi alot dengan kedua calon, mereka terkesan pesimis. Pemimpin kok pesimis. Setelah kourum tercapai mereka malah optimis kepemimpinan mereka setahun kedepan KM-ITB akan lebih baik. Ah sudahlah, itu bukan kapastas saya.
Demikianlah tulisan ini saya buat sebagaimana mestinya, seingat saya dalam memori saya mulai dari hearing sunken yang berakhir jam 4 pagi sampai selesainya hearing TPB. Intinya beritakanlah secara adil dan cerdas apa yang terjadi dan wahai yang merasa disetir buag jauh-jauh pemikiran itu.
Salam.
-Lebih baik tidak memilih daripada salah pilih, Memilih bukan mencoba-



